MBG Dinilai Jadi Investasi Gizi dan Pendidikan, Anggaran Pendidikan Diproyeksi Naik di 2026

Jakarta, Salampena News- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ketua Umum Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA), Kamrussamad, menyebut program tersebut bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pangan siswa, tetapi juga bagian dari investasi sumber daya manusia (SDM) masa depan.

Menurut Anggota DPR RI dari Fraksi Geridra Kamrussamad, masih banyak anak sekolah di Indonesia yang berangkat tanpa sarapan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingkat konsentrasi dan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran di sekolah.

“Data menunjukkan sekitar 60 persen anak sekolah berangkat tanpa sarapan. Padahal secara sederhana dapat dipahami bahwa anak yang lapar akan sulit berkonsentrasi dan belajar dengan optimal,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai program MBG menjadi instrumen penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan sekaligus menciptakan generasi yang sehat dan berdaya saing global.

Dari sisi anggaran, pemerintah disebut tetap menjaga amanat konstitusi dengan mengalokasikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan.

Bahkan, pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, anggaran pendidikan diproyeksikan meningkat signifikan. Dari Rp569,1 triliun pada tahun 2024, anggaran tersebut diperkirakan mencapai Rp769,08 triliun pada tahun 2026.

Kamrussamad menjelaskan bahwa pembiayaan program MBG juga didorong oleh kebijakan efisiensi belanja negara, terutama pada pos pengeluaran yang dinilai kurang produktif seperti perjalanan dinas dan kegiatan seremonial di berbagai kementerian dan lembaga.

Selain itu, pemerintah juga disebut menyiapkan sistem transparansi anggaran. Seluruh rincian program MBG telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025 sehingga dapat diakses publik.

Ia berharap kebijakan yang berfokus pada pemenuhan gizi anak tersebut dapat didukung oleh berbagai pihak. Sebab, menurutnya, pembangunan bangsa harus dimulai dari generasi yang sehat dan memiliki kecukupan gizi.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *