Bima, Salam Pena News – Nada keras dilontarkan Pemerhati Daerah, Ndai Ruma Rengge Sape. Ia secara tegas mengingatkan bahwa PGRI Kabupaten Bima tidak boleh lagi dipimpin oleh sosok yang lemah, penuh keraguan, dan hanya pandai beretorika tanpa keberanian bertindak.
Menurutnya, kondisi PGRI saat ini sedang tidak baik-baik saja. Arah perjuangan dianggap kabur, keberpihakan terhadap guru dinilai melemah, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan nyaris tak terlihat.
“Cukup sudah PGRI berjalan tanpa arah. Cukup sudah dipimpin oleh mereka yang hanya diam saat guru tertekan,” tegasnya Selasa (7/4/26)
Dalam pernyataannya yang penuh tekanan, ia menyebut Doktor Juwaidin, M.Pd sebagai satu-satunya figur yang memiliki keberanian dan ketegasan untuk membenahi kondisi tersebut. Sosok yang tidak hanya hadir sebagai kandidat, tetapi sebagai jawaban atas kegelisahan panjang para guru.
“Ini bukan soal siapa dekat dengan siapa, ini soal siapa yang berani berdiri di garis depan. Dan saya melihat itu ada pada Doktor Juwaidin, M.Pd tegas, jujur, dan tidak bisa dibeli oleh kepentingan sempit,” ujarnya
Ia juga menyindir keras pihak-pihak yang selama ini hanya bermain aman, menikmati jabatan tanpa benar-benar memperjuangkan nasib guru di lapangan.
“Jangan lagi kita pilih pemimpin yang datang saat butuh suara, lalu hilang saat guru butuh pembelaan. PGRI bukan tempat cari nyaman, tapi tempat berjuang,” tegasnya
Ndai Ruma Rengge Sape menegaskan, momentum pemilihan Ketua PGRI ke depan adalah pertaruhan besar apakah organisasi ini akan bangkit atau justru semakin tenggelam dalam kepentingan.
“Kalau kita masih salah pilih, jangan salahkan siapa-siapa kalau PGRI makin tidak dihargai. Tapi kalau kita berani, perubahan itu ada di depan mata,” katanya
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen untuk tidak lagi ragu dalam menentukan sikap.
“Tidak ada ruang untuk setengah hati. Tidak ada waktu untuk kompromi. Kalau ingin PGRI bangkit, maka satu pilihan yang jelas Doktor Juwaidin, M.Pd” pungkasnya. (B/U)









