Catatan Buruk Pelayanan RSUD Bima, Demi Selembar Kertas Keselamatan Nyawa Manusia Diabaikan

Oplus_131072

Bima, Salam Pena News – Pelayanan Rumah Sakit Daerah Bima kini menjadi sorotan masyarakat. Karena salah satu pasien yang ingin berobat telah diabaikan.

Hal ini dialami langsung oleh pasien Rukni menderita penyakit diabetes yang ingin berobat.

“Pada hari Kamis (18 Juni 2026) adalah jadwal pengambilan obat untuk ibu saya yang menderita penyakit diabetes yang sudah berjalan sekitar lima tahun. Namun untuk pengambilan obat harus di apotik Kimia Farma sebagai apotik rekanan BPJS berdasarkan resep dari dokter faskes BPJS ibu saya di PKM Kecamatan Madapangga,” kata Amirudin merupakan anak pasien. Minggu (21/6/26)

Pengambilan obat kali ini agak berbeda dengan sebelumnya. Meskipun semua persyaratannya lengkap, seperti resep dokter faskes BPJS , KTP pasien dan kartu BPJS aktif, tapi pihak Apotik rekanan BPJS tidak bisa langsung memberikan obat seperti biasanya.

“Saya tidak bisa mengambil obat di Apotik Kimia Farma sebagai Apotik rekanan BPJS ibu saya. Karena ada aturan baru yang harus pasien bawa hasil tes HbA1C sebagai syarat tambahanya,” ungkapnya

Lanjut Emon sapaan akrabnya, Tes HbA1C ini adalah tes laboratorium untuk mendiagnosis presentase kadar gula pasien beberapa bulan terakhir. Tes lab ini hanya bisa dilakukan di RSUD Kabupaten Bima maupun di kota Bima berdasarkan rujukan dri PKM.

“Kalau kita merujuk pada aturan baru Itu, artinya ibu saya yang sedang sakit dan baru di operasi amputasi kakinya akibat diabetes harus saya bawa lagi ke RSUD untk melakukan Uji lab sebagai syarat untuk mendapatkan hasil tes HbA1C,” bebernya

Demi kesembuhan seorang ibu, Emon akhirnya membawa ibunya ke RSUD Bima pada Hari Jumat 19 Juni 2026. Justeru dirinya diarahkan oleh pihaknya RSUD untuk masuk ruangan Poli.

“Kita masuk di ruangan Poli bukannya mendapatkan hasil tes HbA1C yang sesuai harapan, justeru petugas melakukan tes tensi darah,” keluhnya

Bukan hanya itu kata dia, lagi-lagi petugas RSUD mengarahkan ke laboratorium yang lumayan jauh dengan kondisi ibunya yang baru beroperasi, dan pastinya akan mendapatkan antrian yang cukup lama.

Setelah mendapatkan hasil uji laboratorium, selanjutnya diarahkan lagi ke ruangan lantai atas.

“Saya naik ke atas untuk meminta hasil tes lab pasien atas nama ibu saya. Namun petugasnya bilang alat tes HbA1Cnya rusak teknisinya tidak masuk. Saya juga diminta untuk datang kembali keesokan harinya” bebernya

Keesokan harinya ia kembali datang di RSUD Bima bukannya mendapatkan hasil baik. Justeru mendapatkan jawaban bahwa dokternya tidak ada.

“Hasil tes HbA1Cnya sudah ada, tapi dokternya yang tanda tangan suratnya tidak ada kalau bisa datang lagi hari Senin,” cetusnya

Pihak RSUD Bima hanya bisa menyuruh untuk datang dilain waktu, tapi tidak memikirkan bagaimana jarak tempuh perjalanan yang harus ditempuh oleh pasien.

“Bayangkan saya di Kecamatan Madapangga, tiga hari harus bolak balik Kota Bima hanya untuk mendapatkan 1 lembar syarat ambil obat saja, sampai serumit dan seribet itu urusanya. Saya hanya bisa beristighfar dan mengelus dada. Emosi sudah tidak terkontrol, ingin saya lontarkan sumpah serapah untuk semua petugas yang ada dan mengobrak abrik seisi ruanganya tapi masih pertimbangkan rasionalitas karena petugas di ruangan itu semuanya ibu,” tegasnya

Ada satu fakta yang sangat miris, dan ini menghina logika dan akal sehat dirinya sebagai manusia.

Hasil tes HbA1C yang di print outkan oleh petugas laboratorium ternyata tanda tangan dokternya berupa digital menggunakan barkode.

“Memang petugas di poli dalam RSUD Bima asli manusia dajjal, manusia kurangajar keselamatan dan nyawa manusia mereka permainkan. Sudah berapa banyak orang mereka bohongi dan dilermainkan,” tandasnya (B/U)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *