DPPKB Dompu Jelaskan Penyebab Stunting pada Anak

Dompu, Salam Pena News – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Dompu menjelaskan ciri-ciri dan penyebab stunting pada anak.

Penjelasan itu disampaikan Kepala DPPKB Kabupaten Dompu, Hj. Iris Juita Kastianti, SKM, M.MKes., Rabu kemarin. Dia menjelaskan anak yang kekurangan nutrisi seperti lemak, karbohidrat, dan protein bisa mengalami stunting.
DPPKB Dompu Lampaui Target Pemprov NTB dalam Pelayanan KB
Katanya, kekurangan nutrisi sering terjadi bersamaan dengan infeksi kronis dan atau stres, yang berdampak pada tinggi badan anak. Pada kasus tersebut, anak menjadi kecil tapi terlihat gemuk karena berat yang rendah terdistribusi pada rangka tubuh yang lebih pendek.

“Sering kali, orangtua menganggap anaknya sehat karena tampilan yang “chubby,” padahal tampilan anak yang “tembem” adalah gejala kurang nutrisi,” terangnya.

Selain nutrisi yang kurang, ada sejumlah penyebab stunting pada anak. Termasuk infeksi kronis, parasit usus, berat lahir rendah, dan pada kasus yang jarang, stres yang ekstrim. Beberapa faktor tersebut saling mempengaruhi. Berat lahir rendah terkait dengan kekurangan nutrisi, dan nutrisi kurang terkait dengan infeksi kronis.

Katanya, konsekuensi serius dari stunting adalah masalah perkembangan kognitif. Ketika anak tidak menerima nutrisi yang dibutuhkan dari makanan, tubuh mengubah energi dengan membatasi aktivitas sosial dan perkembangan kognitif, anak menjadi apatis dan tidak penasaran. Anak ini tidak bisa mengembangkan kapasitas yang cukup untuk bermain dan belajar. Lalu tubuh anak membatasi energi yang ada untuk pertumbuhan.
Wujudkan Dompu Bebas Stunting
Untungnya, penelitian menemukan peningkatan pola makan setelah usia dua tahun bisa mengembalikan perkembangan anak mendekati normal. Sebaliknya, kekurangan nutrisi setelah usia dua tahun bisa sama merusaknya seperti sebelum usia dua tahun. Tapi hal penting yang perlu diingat, setelah terjadi stunting, biasanya sifatnya permanen.

“Penyebab stunting disebabkan karena keterbelakangan pertumbuhan intraurine. Tidak cukup proporsi protein untuk asupan kalori total, sering mengalami infeksi di awal usia,” jelasnya.

Katanya, gejala stunting tersebut diantaranya proporsi tubuh sepertinya normal tapi anak terlihat kecil untuk usianya. Berat badan rendah untuk usianya, terlihat chubby (proporsi massa lemak dan tinggi badan tidak tepat), serta pertumbuhan tulang tertunda.

Untuk pencegahan stunting, katanya dapat dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak balita. Masa kehamilan untuk mencegah terjadinya stunting, diantaranya dengan pemeriksaan kehamilan rutin, yaitu masa sejak anak dalam kandungan hingga seorang anak berusia dua tahun.
DPPKB Dompu Akan Bentuk Kampung Keluarga Berkualitas
Selain itu, memastikan kecukupan nutrisi ibu dan bayi serta pemberian makanan tambahan untuk bayi. Setelah berusia 6 bulan, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau Makanan Pendamping ASI (MPASI) dapat diberikan pada bayi supaya kebutuhan nutrisinya terpenuhi sehingga ia dapat tumbuh dengan optimal.

“Pemberian imunisasi juga harus lengkap untuk mencegah anak dari risiko infeksi penyakit berbahaya. Sering mengalami infeksi penyakit dapat menyebabkan risiko stunting semakin tinggi, tuturnya. AZW/*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *