Relasi Kesalingan Manusia Dengan Alam

Oleh : Feriyadin

Sejak awal keberadaannya di bumi, manusia tidak pernah hidup dalam ruang yang kosong. Ia lahir, tumbuh, berkembang, dan membangun seluruh peradabannya di dalam pelukan alam. Gunung menyediakan mata air, hutan menghasilkan udara yang layak dihirup, tanah menumbuhkan pangan, sungai mengalirkan kehidupan, sementara laut menghadirkan sumber penghidupan yang tidak pernah putus bagi jutaan manusia. Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan, melainkan bagian yang menyatu dalam seluruh proses keberadaannya. Oleh karena itu, hubungan manusia dengan alam sejatinya bukan hubungan antara penguasa dengan sesuatu yang dikuasai, melainkan hubungan kesalingan (mutuality), yaitu hubungan yang dibangun atas dasar saling memberi, saling menopang, saling menjaga, dan saling menentukan keberlangsungan kehidupan. Pandangan ini sejalan dengan perspektif sistem yang memandang setiap unsur kehidupan sebagai bagian dari satu kesatuan yang saling berhubungan, sehingga perubahan pada satu bagian akan memengaruhi keseluruhan system (Muadz, 2016).

Dalam perjalanan sejarah, manusia pernah hidup sangat dekat dengan alam. Masyarakat-masyarakat tradisional memahami bahwa musim, angin, hujan, tanah, bahkan suara burung sekalipun adalah bahasa kehidupan yang harus dibaca dengan penuh penghormatan. Mereka tidak sekadar mengambil hasil alam, tetapi juga memiliki tata nilai yang mengatur bagaimana alam diperlakukan. Menebang pohon dilakukan dengan penuh pertimbangan, menangkap ikan mengikuti musimnya, membuka lahan disertai kewajiban menjaga sumber air, dan memanfaatkan hutan selalu disertai kesadaran bahwa generasi berikutnya juga memiliki hak yang sama terhadap kekayaan alam tersebut. Dalam budaya seperti itu, manusia tidak pernah merasa berada di atas alam, tetapi menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Sayangnya, perkembangan modernitas perlahan mengubah cara pandang tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi memang menghadirkan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga melahirkan kecenderungan baru yang memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi ekonomi. Hutan dihitung berdasarkan nilai kayunya, sungai berdasarkan volume airnya, gunung berdasarkan kandungan mineralnya, dan laut berdasarkan jumlah ikan yang dapat diekstraksi. Alam tidak lagi dipandang sebagai mitra kehidupan, tetapi sebagai komoditas yang dapat dikalkulasi melalui logika keuntungan. Akibatnya, relasi kesalingan berubah menjadi relasi dominasi. Manusia semakin banyak mengambil daripada memberi, semakin banyak memanfaatkan daripada memulihkan.

Paradigma seperti inilah yang kemudian melahirkan berbagai krisis ekologis yang sedang dihadapi dunia saat ini. Perubahan iklim, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran laut, hingga krisis pangan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Semua itu merupakan gejala dari terganggunya keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Ketika manusia merusak hutan, sesungguhnya manusia sedang mengurangi kemampuan bumi menyerap air. Ketika sungai dipenuhi limbah, yang rusak bukan hanya kualitas air, tetapi juga kesehatan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya. Ketika laut dipenuhi sampah plastik, yang terganggu bukan hanya ekosistem laut, tetapi juga rantai pangan yang akhirnya kembali dikonsumsi oleh manusia sendiri. Alam selalu memberikan respons terhadap setiap tindakan manusia karena seluruh unsur kehidupan bekerja sebagai satu sistem yang saling memengaruhi (Muadz, 2016).

Di sinilah pentingnya memahami bahwa relasi manusia dengan alam bukanlah hubungan sepihak. Alam memang menyediakan berbagai sumber daya, tetapi pada saat yang sama manusia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kemampuan alam memperbarui dirinya tetap terjaga. Kesalingan berarti manusia menerima manfaat sekaligus memikul kewajiban. Setiap pohon yang ditebang idealnya digantikan dengan pohon baru. Setiap sumber air yang dimanfaatkan harus dijaga daerah tangkapannya. Setiap hasil laut yang dipanen harus disertai upaya menjaga habitatnya. Prinsip ini bukan sekadar etika lingkungan, tetapi merupakan syarat keberlanjutan kehidupan manusia sendiri.

Perspektif kesalingan tersebut juga mengandung dimensi spiritual yang sangat mendalam. Dalam banyak tradisi keagamaan, alam dipahami sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan. Gunung, lautan, tumbuhan, hewan, bahkan pergantian siang dan malam mengandung pesan yang mengajak manusia untuk merenungkan keteraturan semesta. Karena itu, merusak alam sesungguhnya bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Manusia yang memiliki kesadaran transendental akan melihat alam bukan sebagai benda mati yang bebas diperlakukan sesuka hati, melainkan sebagai amanah yang harus dipelihara. Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam merupakan tiga relasi yang tidak dapat dipisahkan. Keseimbangan ketiganya menjadi fondasi kehidupan yang utuh (Muadz, 2011a, 2019).

Kesadaran ini juga menuntut hadirnya manusia secara utuh dalam setiap tindakan. Banyak kerusakan lingkungan sebenarnya lahir bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena hilangnya kesadaran dalam bertindak. Seseorang mungkin memahami pentingnya menjaga hutan, tetapi tetap melakukan pembalakan liar demi keuntungan sesaat. Masyarakat mungkin mengetahui bahaya sampah plastik, tetapi tetap membuangnya ke sungai karena merasa tidak melihat dampaknya secara langsung. Dalam perspektif pembelajaran kesadaran, tindakan manusia seharusnya selalu dilandasi oleh kehadiran diri secara penuh, yaitu kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap kehidupan yang lebih luas. Kesadaran inilah yang menjadi dasar munculnya tanggung jawab ekologis (Muadz, 2011a).

Relasi kesalingan dengan alam sesungguhnya juga merupakan relasi sosial. Ketika seseorang menjaga hutan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh masyarakat yang memperoleh udara bersih, air yang melimpah, dan iklim yang lebih stabil. Sebaliknya, ketika seseorang merusak lingkungan, dampaknya juga dirasakan oleh orang lain yang sama sekali tidak terlibat dalam tindakan tersebut. Oleh sebab itu, menjaga alam adalah bentuk kepedulian sosial yang paling nyata. Kepedulian terhadap lingkungan pada hakikatnya adalah kepedulian terhadap sesama manusia, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Pemahaman inilah yang sejalan dengan gagasan pembelajaran sosial yang menempatkan hubungan antarmanusia sebagai ruang untuk membangun tanggung jawab bersama terhadap kehidupan kolektif (Muadz, 2011b).

Dalam konteks Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih kaya dengan kearifan lokal seperti Bima, Sumbawa, Flores, Kalimantan, Papua, dan berbagai wilayah Nusantara lainnya, relasi kesalingan dengan alam sebenarnya telah diwariskan melalui nilai-nilai budaya. Alam dipandang sebagai bagian dari identitas masyarakat. Gunung bukan hanya bentang geografis, melainkan sumber kehidupan. Laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi ruang yang dihormati. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan penyangga kehidupan seluruh komunitas. Kearifan lokal semacam ini menjadi modal sosial yang sangat penting untuk membangun paradigma pembangunan yang berkelanjutan.

Namun, menjaga relasi kesalingan tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah atau regulasi lingkungan. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini dimulai dari kebiasaan sederhana: menggunakan air secara bijaksana, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, menghargai ruang hijau, mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan, hingga membangun pola konsumsi yang tidak berlebihan. Perubahan besar selalu berawal dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Pendidikan juga memegang peranan yang sangat strategis dalam membangun kesadaran tersebut. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tentang lingkungan, tetapi perlu menghadirkan pengalaman nyata bagaimana mencintai alam. Anak-anak perlu belajar menanam pohon, merawat kebun sekolah, mengenal sumber mata air, membersihkan pantai, atau mengamati kehidupan satwa di sekitarnya. Ketika pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar, kepedulian terhadap alam tidak lagi berhenti pada pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi karakter.

Relasi kesalingan manusia dengan alam merupakan fondasi bagi keberlanjutan seluruh kehidupan. Manusia tidak mungkin hidup tanpa alam, sebagaimana alam membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran untuk menjaganya. Hubungan keduanya bukanlah hubungan antara yang kuat dan yang lemah, bukan pula antara penguasa dan yang dikuasai, melainkan hubungan dua entitas yang saling menopang dalam satu sistem kehidupan yang utuh. Ketika manusia belajar menghormati alam, sesungguhnya manusia sedang menjaga masa depannya sendiri. Ketika manusia memulihkan hutan, sungai, laut, dan tanah, sesungguhnya manusia sedang memulihkan kualitas hidup seluruh umat manusia.

Karena itu, ukuran kemajuan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh tingginya gedung-gedung, canggihnya teknologi, atau besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya membangun hubungan yang harmonis dengan alam. Peradaban yang benar-benar maju adalah peradaban yang mampu hidup bersama alam tanpa merusaknya, memanfaatkan kekayaannya tanpa menghabiskannya, serta mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi yang akan datang. Dalam relasi kesalingan itulah manusia menemukan makna terdalam dari keberadaannya: bukan sebagai penguasa bumi, melainkan sebagai penjaga kehidupan.

Rerefensi

Muadz, M. H. (2011a). Kuadran Pembelajaran: Konsep & Strategi dengan Formula Kuadran Ruang Waktu. GH Publishing.

Muadz, M. H. (2011b). Sekolah Perjumpaan. GH Publishing.

Muadz, M. H. (2016). Anatomi Sistem Sosial: Rekonstruksi Menggunakan Nalar Sistem. Institut Pembelajaran Gelar Hidup (IPGH).

Muadz, M. H. (2019). Interaksi Tuhan Manusia: dalam Komunikasi Al-Qur’an. Sanabil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *