Penulis
Ryan Fiqhi. SH
Ketua Bidang Hukum dan Ham Masyarakat Pesisir Nusantara (PEMESTA).
Wujudkan Bima yang Ramah saling menghormati dan menghargai, mengemban amanah yang terpilih, menghormati dan menghargai para rival pejuang yang belum saatnya terpilih.
Hilangnya nilai-nilai persaudaraan hanya karena pemilihan, segala bentuk amanah adalah tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan kelak kita mati. Tidak ada yang perlu diperjuangkan sampai mati-matian, karena sesungguhnya telah tercatat dilauhul mahfuz.
Segala skenario sang pecipta itulah pasti yang terbaik, melihat lunturnya nilai-nilai islam yang menjadi simbol Kabupaten Bima, dan terkikis hanya karena kontestasi pilkada dimaknai sebagai pertarungan harga diri dan saling caci maki. Bukan lagi mewujudkan cita–cita dari demokrasi, melainkan menghilangkan tali silaturahmi, dan merusak tatanan kehidupan ini.
Perpecahan dan keterbelahan di akar rumput terlihat jelas, jauh dari kata terwujudnya Bima Ramah, kekalahan bukanlah aib dan bukan juga penyakit. Akan tetapi merupakan perjuangan yang harus dihormati dan dibanggakan, karena setiap proses pasti tidak akan menghianati hasil, karna skenario sang penciptalah sebaik-baiknya skenario di dunia ini, dan bagi yang terpilih semoga amanah dan mampu menjaga amanah untuk masyarakat Kabupaten Bima.
Dan bagi para pemilih yang terpilih tidak ada yang perlu dibanggakan secara berlebih-lebihan karena menerima amanah adalah bagian dari ujian Allah Swt, bahwasannya menjadi pemimpin itu adalah ujian. Begitupun mereka yang dipimpin, oleh sebab itu, baik pemimpin atau yang dipimpin harus saling mengingatkan agar apa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Teringat sebagaimana Pidato pertama kali mengemban amanah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi RI Putra Asli Bima Tokoh NTB DR. H. Anwar Usman, ketika pertama kali beliau dilantik menjadi Ketua Mahkamah Kontitusi RI lembaga tinggi negara yang beliau ucapkan pertama kali adalah bukan rasa bangga yang berlebihan melainkan ucapan pertama beliau adalah “innalilahi karna saya meyakini bahwa suatu jabatan pada hakekatnya merupakan ujian yang diberikan kepada hambanya oleh karna itu jika seseorang menghadapi ujian hanya kepada sang penciptanya lah ia mengadu dan memohon pertolongan”,.
Kutipan pidato beliau ini mengajarkan kita masyarakat khususnya masayarakat Bima Nusa Tenggara Barat, tidak ada jabatan yang perlu kita perjuangkan mati-matian karena pada hakekatnya semuanya adalah ujian yang kelak akan dimintai pertanggungajawabannya. Wujudkan Bima yang Ramah, Religius sebagai icon Keislaman dan Keindonesian kita, merajut asa menjalin mimpi untuk kabupaten bima yang maju, Silaturahmi adalah kunci kemajuan kabupaten bima untuk menuju Kabupaten Bima yang mampu dan berdaya saing karna kemajuan SDA haruslah didukung dengan Kemjuan SDM nya. Bima Maja Labo Dahu.









