BIMA, Salam Pena News – Proyek pembangunan Kampung Nelayan di wilayah pesisir Kabupaten Bima kembali menuai sorotan negatif. Kali ini bukan soal kualitas bangunan, melainkan praktik pemberian upah kepada para pekerja yang dinilai sangat rendah, tidak layak, dan jauh di bawah standar ketenagakerjaan yang berlaku.
Puluhan pekerja yang terlibat proyek tersebut mengaku bekerja berjam-jam setiap hari, mulai pagi hingga sore bahkan hingga malam, namun upah yang mereka terima nyaris tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kami masuk kerja pukul 07.00 pagi, pulang pukul 18.00 malam, istirahat hanya sebentar. Tapi upah yang kami terima jauh dari layak,” ungkap salah satu pekerja yang enggan disebut namanya, Senin (28/9/2026). “Bahkan tidak cukup untuk makan keluarga, apalagi biaya lain-lain. Rasanya tenaga kami diperas.”
Berdasarkan informasi yang dihimpun, nilai upah yang tercantum dalam kontrak kerja maupun yang dibayarkan langsung kepada para pekerjanya jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bima. Selain itu, para pekerja juga tidak mendapatkan jaminan keselamatan kerja, asuransi, maupun tunjangan apa pun meskipun pekerjaan yang dilakukan tergolong berat dan berisiko.
Para pekerja menyampaikan bahwa mereka tidak berani menuntut hak secara terbuka karena khawatir diusir dari pekerjaan dan tidak lagi mendapat penghasilan. Namun, mereka berharap pihak berwenang dapat menindaklanjuti ketidakadilan ini.
M.Ali Sebagai Tokoh Muda setempat, Sekaligus Mantan Ketua Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bima, saat dikonfirmasi, menilai praktik ini sangat memprihatinkan dan melanggar aturan ketenagakerjaan. “Proyek yang seharusnya membawa kesejahteraan justru menindas orang-orang yang membangunnya. Ini tidak manusiawi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek belum memberikan tanggapan apa pun. Masyarakat meminta Dinas Tenaga Kerja dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan, memastikan upah disesuaikan dengan standar yang berlaku, serta memberikan perlindungan kepada para pekerja. Pembangunan Kampung Nelayan diharapkan tidak hanya menguntungkan sebagian pihak, tetapi juga memperlakukan seluruh tenaga kerja dengan hormat dan adil. (093)










